MELINTING NEWS/ KALIMANTAN — Situasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Kalimantan memasuki fase kritis. Berdasarkan data pemantauan per Senin, 31 Agustus 2026, lonjakan drastis titik panas (hot spot) dan titik api (fire spot) melanda sejumlah provinsi, menyebabkan kabut asap pekat yang melumpuhkan jarak pandang hingga di bawah 1 kilometer.
Kalimantan Barat mencatatkan eskalasi paling mengkhawatirkan dengan 7.377 titik panas—melonjak 3.553 dari data sebelumnya—serta 104 titik api. Akibat pekatnya asap, jarak pandang di wilayah ini merosot hingga kurang dari 1 kilometer. Total luas lahan yang terbakar di Kalimantan Barat kini mencapai 38.310 hektar. Dampak terparah terkonsentrasi di Kabupaten Ketapang seluas 12.443,79 hektar, Kubu Raya (6.814,31–8.000 hektar), Kabupaten Mempawah (6.144,98 hektar), dan Kabupaten Kayong Utara (4.228,10 hektar).
Kondisi darurat serupa juga melanda Kalimantan Tengah. Pemerintah daerah setempat resmi menetapkan status tanggap darurat karhutla setelah terpantau 5.244 hingga 5.391 titik panas dan 72 titik api. Jarak pandang di Kalteng turut memburuk hingga kurang dari 1 kilometer, dengan ribuan hektar lahan hangus di berbagai kabupaten, termasuk Kotawaringin Timur.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, intensitas karhutla di Kalimantan Selatan menunjukkan tren penurunan titik panas. BPBD setempat mencatat 504 titik panas (turun 405) dan 55 titik api dengan jarak pandang kurang dari 2 kilometer. Meski demikian, total luas lahan terdampak di Kalsel tetap tinggi, yakni mencapai 11.741,58 hektar, dengan Kabupaten Banjar sebagai wilayah terparah seluas 2.555,81 hektar.
Adapun di Kalimantan Timur, ratusan kejadian karhutla telah menghanguskan lahan seluas 1.260 hingga 1.595 hektar.
Hingga saat ini, satuan tugas penanggulangan bencana gabungan di tingkat pusat dan daerah terus mengintensifkan operasi pemadaman darat dan udara guna memutus rantai penyebaran api serta menekan risiko kesehatan akibat paparan kabut asap bagi masyarakat luas.
(Rudi).










