JAKARTA|Melintingnews.com , 13 Mei 2026 – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengambil langkah tegas dalam upaya pengentasan kemiskinan dengan menginstruksikan penurunan drastis suku bunga program Permodalan Nasional Madani (PNM) Mekaar. Dari yang semula menyentuh angka 24 persen, Kepala Negara menargetkan suku bunga bagi keluarga prasejahtera tersebut harus ditekan hingga di bawah 9 persen.
Kebijakan strategis ini disampaikan Presiden dalam sambutannya di Kompleks Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Jakarta, pada Rabu (13/5). Presiden menegaskan bahwa langkah ini merupakan keputusan politik demi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Koreksi Ketimpangan Akses Pembiayaan
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Presiden Prabowo menyoroti adanya anomali dalam sistem perbankan nasional, di mana pelaku usaha mikro justru dibebani bunga yang jauh lebih tinggi dibandingkan pengusaha besar.
“Padahal pengusaha-pengusaha besar kalau ke bank mungkin dapat 9 persen. Bayangkan, orang kaya dikasih 9 persen, orang miskin 24 persen. Ini negara Pancasila, saya tidak paham,” ujar Presiden.
Beliau menekankan bahwa patokan pemerintah dalam mengambil kebijakan adalah Pancasila dan UUD 1945, bukan sekadar slogan, melainkan aksi nyata dalam memperbaiki sistem yang lemah guna melindungi kelompok ekonomi bawah.
Reformasi Regulasi dan Satgas Deregulasi
Selain sektor pembiayaan, Presiden Prabowo juga memberikan atensi khusus pada iklim investasi dan birokrasi yang dinilai masih menghambat. Presiden menginstruksikan kepada seluruh Kementerian dan Lembaga (K/L) untuk:
Mempermudah Perizinan: Mengurangi hambatan birokrasi yang menyebabkan proses izin usaha memakan waktu hingga 1-2 tahun.
Mendukung Pengusaha Jujur: Memberikan dukungan penuh bagi pengusaha dan investor yang bekerja secara benar demi menciptakan lapangan kerja.
Pembentukan Satgas Khusus: Menginstruksikan Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, untuk membentuk satuan tugas khusus deregulasi guna menyederhanakan aturan yang tumpang tindih.
Komitmen Efisiensi Nasional
Menutup arahannya, Presiden optimis bahwa dengan perbaikan sistem dan peningkatan efisiensi anggaran, negara akan memiliki kemampuan finansial yang cukup untuk menyejahterakan rakyat.
“Percaya sebentar lagi, uang kita cukup. Kita akan terus membenahi sistem dan berbuat lebih banyak dari ini demi kemakmuran rakyat,” pungkasnya.
(*)










