BANDA ACEH| MELINTING NEWS – Resimen Mahasiswa Batalyon 01/Wira Bhakti Universitas Syiah Kuala (Menwa Yon 01/WB-USK) melaksanakan *Gladi Siaga Water Rescue dan Bencana* di kawasan *Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, Minggu (30/8/2026)*.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan dan keterampilan personel dalam menghadapi kondisi darurat, khususnya potensi bencana dan keadaan darurat di wilayah perairan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Gladi Siaga Water Rescue dan Bencana tidak hanya berorientasi pada peningkatan kemampuan teknis, tetapi juga menjadi bagian dari pembentukan karakter personel Menwa agar memiliki sikap *sigap, tangguh, disiplin, peduli dan mampu bekerja secara terkoordinasi* dalam menghadapi situasi darurat.
Melalui kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pembekalan dan latihan mengenai prosedur keselamatan, respons terhadap kondisi darurat, teknik penyelamatan, komunikasi serta pentingnya koordinasi dalam pelaksanaan operasi penyelamatan.
Komandan Menwa Batalyon 01/Wira Bhakti Universitas Syiah Kuala, *T. Syawal Alfarizy*, mengatakan bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana merupakan salah satu bentuk pengabdian generasi muda kepada masyarakat.
> “Kesiapsiagaan bukan hanya tentang kemampuan menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga bagaimana kita mampu memberikan pertolongan kepada orang lain dengan tetap memperhatikan keselamatan, prosedur dan koordinasi.”
Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi sarana menanamkan nilai-nilai *bela negara* kepada mahasiswa.
> “Bela negara tidak hanya diwujudkan melalui pertahanan bersenjata. Ketika kita memiliki kemampuan untuk membantu masyarakat, siap menghadapi bencana, menjaga keselamatan orang lain dan memberikan kontribusi dalam situasi darurat, itu juga merupakan bentuk nyata dari bela negara.”
T.Syawal Alfarizy menambahkan bahwa keberanian dalam menghadapi keadaan darurat harus diimbangi dengan pengetahuan dan keterampilan.
> “Keberanian harus diikuti dengan kemampuan. Karena itu, personel perlu dibekali pengetahuan dan pengalaman agar ketika menghadapi situasi sebenarnya mereka tidak panik dan mampu mengambil tindakan yang tepat.”
Sementara itu, *Dedi Wahyudi, S.Pd., Staf Sumber Daya sekaligus Koordinator Instruktur*, mengatakan bahwa latihan menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan generasi muda.
Menurutnya, kondisi bencana membutuhkan personel yang mampu memahami situasi, bekerja dalam tim, berkomunikasi dengan baik dan mengambil keputusan secara tepat.
> “Dalam kondisi bencana, waktu sangat menentukan. Personel harus memahami apa yang harus dilakukan, bagaimana berkomunikasi dan bagaimana bekerja sebagai satu tim. Latihan menjadi penting untuk membentuk respons tersebut.”
Dedi juga menekankan bahwa setiap tindakan penyelamatan harus tetap mengutamakan keselamatan penolong maupun korban.
> “Tujuan utama dalam kegiatan penyelamatan adalah membantu korban, tetapi penolong juga harus memastikan dirinya aman. Karena itu, pengetahuan, prosedur dan koordinasi menjadi hal yang sangat penting.”
Sebagai Koordinator Instruktur, Dedi turut mengoordinasikan proses pembekalan dan pelatihan agar kegiatan berjalan secara terarah, sistematis dan tetap memperhatikan aspek keselamatan.
Pelaksanaan *Gladi Siaga Water Rescue dan Bencana* menjadi momentum bagi Menwa Yon 01/WB-USK untuk memperkuat kapasitas personel sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa mahasiswa memiliki peran dalam membantu masyarakat ketika menghadapi keadaan darurat dan bencana.
Kegiatan ini juga memperkuat semangat kolaborasi dan kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai potensi bencana, khususnya di wilayah perairan.
Bagi Menwa Yon 01/WB-USK, kemampuan menghadapi keadaan darurat bukan sekadar keterampilan, tetapi merupakan bagian dari *pengabdian, kepedulian kemanusiaan dan implementasi nilai bela negara*.
Karena bela negara bukan hanya tentang menjaga negara ketika perang, tetapi juga tentang kesiapan untuk hadir, membantu dan melindungi sesama ketika bencana datang.
(T.SYAWAL).










