BANDA ACEH | MELINTING NEWS – Semangat bela negara tidak hanya diwujudkan melalui kemampuan pertahanan, tetapi juga melalui kesiapsiagaan, kepedulian terhadap sesama, kemampuan menghadapi keadaan darurat, serta kesediaan untuk hadir dan memberikan bantuan ketika masyarakat membutuhkan.
Semangat tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan Pelatihan Tactical Hazard Response yang digelar Resimen Mahasiswa Batalyon 01/Wira Bhakti Universitas Syiah Kuala (Menwa Yon 01/WB-USK) bersama Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPK) Banda Aceh, Sabtu, 29 Agustus 2026.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan yang berlangsung di Mako Yon 01/WB-USK, Banda Aceh, ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter dan kesiapsiagaan personel dalam menghadapi berbagai potensi bahaya maupun kondisi darurat.
Dalam pelatihan tersebut, personel mendapatkan pembekalan dan praktik mengenai respons terhadap situasi berbahaya, teknik penyelamatan, keselamatan personel, serta pentingnya komunikasi dan koordinasi dalam penanganan keadaan darurat.
Peserta juga dituntut mampu memahami situasi, mengambil keputusan secara tepat, bekerja sama dalam tim, serta tetap mengutamakan keselamatan dalam setiap tindakan.
Komandan Menwa Batalyon 01/Wira Bhakti Universitas Syiah Kuala, T. Syawal Alfarizy, mengatakan bahwa kemampuan menghadapi keadaan darurat merupakan bagian dari kesiapan generasi muda dalam menjalankan tanggung jawab sosial dan pengabdian kepada bangsa.
“Bela negara tidak hanya berbicara tentang bagaimana kita mempertahankan negara dalam situasi perang. Ketika terjadi bencana atau keadaan darurat, kemampuan untuk membantu, menyelamatkan, memberikan pertolongan, serta menjaga keselamatan masyarakat juga merupakan bentuk pengabdian kepada bangsa dan negara,” ujar Syawal.
Menurutnya, keberadaan Menwa di lingkungan perguruan tinggi tidak hanya berkaitan dengan kedisiplinan dan kemampuan keprajuritan, tetapi juga bagaimana membentuk mahasiswa yang memiliki karakter, kepedulian sosial, tanggung jawab, serta kesiapan untuk berkontribusi bagi masyarakat.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin membentuk personel yang bukan hanya sigap secara fisik, tetapi juga mampu berpikir tenang, mengambil keputusan dengan tepat, bekerja sama dan memiliki rasa tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut merupakan bagian penting dari semangat bela negara,” katanya.
Syawal juga mengapresiasi kolaborasi dengan DPK Banda Aceh yang telah memberikan pengetahuan dan pengalaman kepada personel Menwa melalui pembekalan dan praktik lapangan.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada DPK Banda Aceh atas kolaborasi dan ilmu yang diberikan. Sinergi seperti ini sangat penting karena personel mendapatkan pengalaman langsung dari pihak yang memiliki kompetensi dan pengalaman dalam penanganan kebakaran maupun penyelamatan,” ujarnya.
Ia berharap ilmu yang diperoleh dalam kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai pengetahuan selama pelatihan, tetapi dapat menjadi bekal yang terus dikembangkan oleh setiap personel.
“Harapannya, personel mampu membawa ilmu ini dalam kehidupan sehari-hari dan dapat menggunakannya secara tepat ketika menghadapi keadaan darurat. Yang paling utama adalah tetap mengutamakan keselamatan, prosedur dan koordinasi,” tambahnya.
Sementara itu, Hazairin, S.Sos., menilai pembentukan kesiapsiagaan generasi muda perlu dilakukan melalui latihan dan pengalaman nyata di lapangan.
“Dalam menghadapi kondisi darurat, keberanian saja tidak cukup. Dibutuhkan pengetahuan, keterampilan, ketenangan, kemampuan membaca situasi dan kerja sama tim. Karena itu, latihan seperti ini sangat penting untuk membentuk respons yang tepat ketika menghadapi kondisi sebenarnya,” ujar Hazairin.
Ia menyebut semangat bela negara dapat dibangun dari hal-hal sederhana, salah satunya melalui kepedulian terhadap keselamatan orang lain dan kesiapan untuk memberikan pertolongan.
“Bela negara dimulai dari kepedulian. Ketika seseorang memiliki kemampuan dan bersedia menggunakan kemampuan tersebut untuk membantu orang lain, di situlah salah satu bentuk nyata dari pengabdian kepada bangsa dan negara,” katanya.
Hazairin berharap seluruh peserta menjadikan kegiatan tersebut sebagai pengalaman yang dapat terus dikembangkan.
“Jangan berhenti ketika pelatihan selesai. Terus berlatih, terus belajar dan tetap disiplin. Dalam keadaan darurat, kesiapan dan ketepatan tindakan sangat penting karena dapat menentukan keselamatan diri sendiri maupun orang lain,” ujarnya.
Pelatihan Tactical Hazard Response tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen Menwa Yon 01/WB-USK dalam membentuk generasi mahasiswa yang sigap, tangguh, terampil dan profesional, serta memiliki kesadaran terhadap tanggung jawab sosial dan nilai-nilai bela negara.
Kolaborasi bersama DPK Banda Aceh diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai bentuk sinergi dalam meningkatkan kapasitas generasi muda, khususnya dalam menghadapi potensi bencana, keadaan darurat, serta berbagai situasi yang membutuhkan respons cepat dan terukur.
Bagi Menwa Yon 01/WB-USK, kesiapsiagaan bukan sekadar kemampuan teknis, melainkan bagian dari karakter seorang insan yang siap mengabdi.
“Bela negara bukan hanya tentang mengangkat senjata, tetapi juga tentang kesiapan untuk berdiri di tengah masyarakat ketika bangsa dan sesama membutuhkan.”
[T.Syawal Alfarizy]










