PONOROGO // MELINTING NEWS– Perjalanan pendidikan keagamaan menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan hidup Kang R.T. Teguh Wiyono, SE., SH., S.Pd., MM. Sosok yang kini muncul dalam bursa calon Wakil Bupati Ponorogo ini memiliki latar belakang pendidikan pesantren yang ditempuh di sejumlah lembaga pendidikan Islam.
Berdasarkan profil yang diberitakan sejumlah media, Teguh Wiyono pernah menempuh pendidikan Marhalah Wustho di Pondok Pesantren Darul Huda Mayak Ponorogo pada 2001–2003. Setelah itu, perjalanan pendidikannya berlanjut di Pondok Pesantren Hidayatussalikin (PPHS), Pematang Pasir, pada 2003–2004. Selanjutnya, pada 2004–2007 ia melanjutkan pendidikan Marhalah ‘Ulya di Pondok Modern Al-Kahfi Metro dan memperoleh ijazah pondok.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jejak pendidikan pesantren tersebut menjadi bagian dari perjalanan Teguh Wiyono yang kemudian berlanjut ke dunia pendidikan formal, organisasi, usaha, hingga aktivitas sosial dan politik.
Dari Santri untuk Pengabdian
Bagi Teguh, pengalaman mondok bukan sekadar perjalanan pendidikan, tetapi juga proses pembentukan karakter, kedisiplinan, kemandirian dan pengabdian kepada masyarakat.
Latar belakang sebagai santri tersebut kini menjadi bagian dari identitas yang dibawanya ketika membuka ruang pengabdian lebih luas di Kabupaten Ponorogo.
Nama Teguh Wiyono sendiri dalam beberapa bulan terakhir diberitakan masuk dalam dinamika bursa calon Wakil Bupati Ponorogo. Sejumlah pemberitaan menyebut dirinya sedang membangun komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat dan partai politik terkait proses tersebut.
Santri Menuju Kursi Wakil Bupati
Dengan latar belakang pesantren, pendidikan formal, dunia usaha, organisasi dan pengalaman sosial, Kang Teguh Wiyono menyatakan kesiapan untuk maju sebagai calon Wakil Bupati Ponorogo dalam rangka pengisian jabatan PAW untuk sisa masa jabatan 2024–2029.
Posisi tersebut memiliki mekanisme pengisian tersendiri dan proses politiknya masih berjalan. Karena itu, pencalonan Teguh perlu ditempatkan sebagai bagian dari proses yang sedang berlangsung, bukan sebagai keputusan final yang telah ditetapkan.
Sejumlah media juga memberitakan bahwa Teguh telah melakukan komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh agama, tokoh masyarakat dan partai politik.
“Dari pesantren, untuk masyarakat. Dari santri, menuju pengabdian,” menjadi semangat yang dapat menggambarkan perjalanan Kang Teguh Wiyono dalam membuka langkah pengabdian di tanah kelahirannya.
Dengan rekam perjalanan pendidikan pesantren di Darul Huda Mayak Ponorogo, Hidayatussalikin (PPHS) Pematang Pasir, dan Pondok Modern Al-Kahfi Metro, Kang Teguh membawa pengalaman tersebut sebagai bagian dari perjalanan menuju ruang pengabdian yang lebih luas di Ponorogo.
REDAKSI : MELINTING NEWS.
SUMBER : TEGUH WIYONO.
PEWARTA: AMIR.










