PRINGSEWU, LAMPUNG | MELINTING NEWS 18/4/2026 – Di sebuah sudut Kabupaten Pringsewu, gema ayat-ayat suci Al-Qur’an tidak hanya keluar dari bibir para remaja, melainkan dari lisan-lisan yang telah dimakan usia. Pesantren Lansia Al Ishlah, sebuah institusi pendidikan non-formal di bawah asuhan Ustaz Latief Al Imami, kini menjadi sorotan nasional berkat dedikasinya mengentaskan buta aksara Al-Qur’an bagi warga lanjut usia (lansia).
Bukan sekadar tempat mengaji, pesantren ini menjadi rumah kedua bagi ratusan kakek dan nenek yang ingin memperbaiki spiritualitas di pengujung usia. Yang paling mengesankan, pesantren ini membina seorang santri yang telah menginjak usia 96 tahun, yang tetap istikamah menuntut ilmu di tengah keterbatasan fisik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Metode Tsaqifa: Solusi Cepat Belajar Al-Qur’an bagi Lansia
Ustaz Latief Al Imami menjelaskan bahwa mengajar lansia memerlukan pendekatan psikologis dan metodologi yang berbeda dibandingkan santri usia produktif.
“Kami menyadari bahwa daya ingat dan penglihatan para santri kami sudah menurun. Oleh karena itu, bagi pemula, kami menerapkan Metode Tsaqifa. Ini adalah metode percepatan membaca Al-Qur’an yang didesain ramah bagi logika orang tua, sehingga mereka tidak merasa terbebani,” ujar Ustaz Latief saat ditemui di lokasi kegiatan, Sabtu (18/4/2026).
Program pembelajaran dibagi menjadi beberapa klaster:
Kelas Literasi: Fokus pada pengenalan huruf hijaiyah bagi yang buta aksara.
Kelas Tajwid & Tahsin: Perbaikan bacaan bagi yang sudah bisa membaca.
Kelas Amaliah: Bimbingan tata cara salat dan kajian fikih harian.
Dua Pusat Pembelajaran: Antusiasme yang Meluas
Hingga saat ini, Pesantren Al Ishlah telah mengoperasikan dua titik aktivitas utama di Pringsewu:
Angkatan I (Gadingrejo): Berpusat di Masjid Al Ishlah, Pekon Klaten. Diikuti oleh 180 santri campuran yang rutin belajar setiap Jumat pagi.
Angkatan II (Fajaresuk): Bertempat di rumah dr. Angel, kompleks perkantoran Kelurahan Fajaresuk. Lokasi ini dikhususkan bagi 50 santri perempuan yang melaksanakan kegiatan setiap Sabtu pagi.
Filantropi dan Kesejahteraan Santri
Pesantren ini mengadopsi konsep pelayanan paripurna. Menyadari kondisi ekonomi sebagian santri, pengelola tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga dukungan logistik. Setiap akhir pertemuan, para santri diberikan konsumsi bergizi, serta pembagian paket sembako secara rutin setiap bulan.
“Ini adalah pengabdian sosial dan dakwah. Kami ingin memastikan para orang tua kita ini pulang ke Rahmatullah dalam keadaan tidak buta huruf Al-Qur’an. Semangat mereka seringkali melampaui santri muda; mereka adalah teladan nyata bahwa belajar adalah proses sepanjang hayat,” tambah Ustaz Latief dengan haru.
Oase Spiritual di Tengah Modernitas
Kehadiran Pesantren Lansia Al Ishlah menjadi pengingat penting bagi masyarakat bahwa pendidikan agama adalah hak setiap individu tanpa memandang sengketa usia. Pesantren ini berharap program serupa dapat direplikasi di daerah lain untuk memberikan ruang bagi para lansia agar tetap produktif secara spiritual dan memiliki komunitas sosial yang sehat.
Tentang Pesantren Lansia Al Ishlah:
Pesantren Lansia Al Ishlah adalah lembaga pendidikan keagamaan di Kabupaten Pringsewu, Lampung, yang berfokus pada pembinaan rohani dan kesejahteraan sosial bagi masyarakat lanjut usia. Melalui pendekatan yang inklusif dan humanis, Al Ishlah berkomitmen menciptakan masa tua yang bermartabat dan religius.










